Jumat, 20 Mei 2016

Studi Kasus "Kerjasama Tim"



Nama               : Rizky Zulfia Ningrum

  Team work bisa diartikan sebagai kerja tim atau kerjasama, team work atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi serta berkomitmen untuk mencapai  misi yang sudah disepakati sebelumnya untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien. 

Berikut ini ada beberapa contoh atau studi kasus terkait Team Work.
1.      Kinerja PT Unilever Tbk. Guna Memenuhi  Kebutuhan Konsumen
Data Utama:
Unilever adalah  43 brand utama dan 1,000 SKU, dipasarkan melalui jaringan yang melibatkan sekitar 500 distributor Unilever atau PT. Unilever Indonesia merupakan perusahaan multinasional yang memproduksi produk-produk kebutuhan konsumen. Unilever unggul dengan brand-brand andalanya dalam Rangkaian mencangkup brand-brand ternama yang disukai di dunia seperti Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Vaseline, Rinso, Molto, Sunlight, Walls, Blue Band, Royco, Bango, dan lain-lain.
Bagi Unilever, sumber daya manusia adalah pusat dari seluruh aktivitas perseroan. Kami memberikan prioritas pada mereka dalam pengembangan profesionalisme, keseimbangan kehidupan, dan kemampuan mereka untuk berkontribusi pada perusahaan. Terdapat lebih dari 6000 karyawan tersebar di seluruh nutrisi.
Unilever memiliki enam pabrik di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Bekasi, dan dua pabrik di Kawasan Industri Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, dengan kantor pusat di Jakarta. Produk-produk Perseroan berjumlah independen yang menjangkau ratusan ribu toko yang tersebar di seluruh Indoneisa.
Analysis dan Komentar Penulis :
Bahwa membangun sebuah perusahaan, sama halnya dengan membangun sebuah rumah. Untuk membangun rumah yang kokoh dibutuhkan pondasi bangunan yang kuat serta tiang-tiang penyangga yang tegak. Begitu pula dalam membangun, dibutuhkan visi yang kuat sebagai pondasi dasar, dan team wrok yang solid sebagai tiang penyangga untuk mencapai kesuksesan perusahaan yang telah ditargetkannya.
Tak bisa dipungkiri bila keberadaan team work  memang sangat penting dalam membangun sebuah bisnis dalam perusahaan. Bahkan bisa dikatakan, maju tidaknya sebuah perusahaan sangat dipengaruhi oleh team work yang ada di dalamnya. Semakin solid team yang mendukung sebuah bisnis, maka akan semakin besar pula peluang sukses yang dimiliki bisnis tersebut. Dan begitu juga sebaliknya, bila team di dalamnya tidak solid dan bekerja sendiri-sendiri, bisa dipastikan bisnis tersebut tidak bisa bertahan lama menghadapi persaingan dunia bisnis yang selalu meningkat setiap harinya. Terlebih lagi, Unilever memiliki enam pabrik besar yang tersebar luas di Indonesia.
Kinerja merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam sebuah perusahaan dalam upayanya untuk menciptakan suatu produk atau jasa. Kinerja biasanya identik dengan proses pekerjaan dikalangan karyawan suatu perusahaan. Karena kinerja inilah yang akan memberikan suatu hasil bagi perusahaan tersebut. Kinerja karyawan merupakan aspek penting dalam sebuah perusahaan. Karena hal inilah yang akan menentukan maju atau mundurnya suatu perusahaan. Apabila para karyawannya berkinerja buruk maka yang terjadi adalah kemerosotan pada perusahaannya. Hal ini juga akan berlaku sebaliknya, apabila para karyawannya merupakan para karyawan yang rajin dan senang berinovasi maka yang terjadi adalah kemajuan yang positif bagi perusahaan tersebut.
Berbagai program telah digunakan dan diterapkan diberbagai perusahaan untuk mendapatkan sebuah nilai yang lebih dihadapan para konsumennya dalam rangka untuk meningkatkan mutu produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan seperti melalui penerapan program TPM atau program Total Quality Management dan Penerapan program ISO atau Internasional Standart Organization yang sekarang memang harus diterapkan pada perusahaan-perusahaan swasta. Untuk menunjang program tersebut, karyawan diharuskan untuk mengikuti pelatihan dan menerapkanya dalam pekerjaannya. Dengan demikian akan mendorong munculnya produk baru dengan mutu yang baik dan harga yang terjangkau, khususnya untuk produk–produk yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.
Meskipun membangun team work yang solid merupakan langkah penting dalam membangun sebuah bisnis dalam perusahaan, namun untuk menciptakannya di tengah lingkungan kerja bukanlah perkara yang mudah. Karena menyatukan sifat dan karakter dari setiap individu yang berbeda menuju satu tujuan yang sama,
membutuhkan tenaga, strategi dan waktu yang tidak sebentar. Hal inilah yang membuat para pemimpin perusahan maupun manajer sering mengadakan kegiatan khusus bagi para karyawannya, untuk meningkatkan solidaritas dan kerjasama antar personal.
Seperti yang kita ketahui perusahaan Unilever merupakan sebuah perusahaan besar yang ada di Indonesia yang bergerak dalam bidang menghasilkan berbagai macam produk yang dibutuhkan oleh para konsumen yang ada di Indonesia. Beberapa produk yang dihasilkan oleh PT. Unilever ini adalah seperti molto, sabun lifebuoy, kecap bango, dan produk lainnya. Dalam partisiasinya didalam era perdagangan bebas perlu juga adanya sebuah efisiensi proses produksi untuk menghadapi persaingan perusahaan ditingkat global, mendorong perusahaan sejenis dan juga berupaya untuk senantiasa melakukan inovasi – inovasi baru pada hasil produksinya. Tetapi dengan munculnya krisis ekonomi yang melanda Indonesia beberapa tahun terakhir ini, membuat masyarakat menjadi selektif memilih produk yang baik dengan harga terjangkau di masyarakat.
Oleh sebab itu perlunya perusahaan melakukan upaya – upaya untuk menuju perbaikan sistem supaya tetap bertahan dalam dunia perindustrian yang semakin ketat dan tuntutan akan produk yang bermutu. Dengan demikian peranan dari sumber daya manusia sebagai asset perusahaan yang paling berharga sangat membantu perusahaan untuk melakukan perbaikan – perbaikan sistem Sumber daya manusia, sehingga dapat mengoptimalkan kinerja karyawan dan pada akhirnya dapat mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan.
Dengan mendorong karyawan untuk terus menerus mengembangkan diri serta mempertahankan work-life balance, perusahaan dapat mengembangkan dan mempertahankan SDM-SDM yang handal dan berkualitas, yang berperan utama dalam pengembangan bisnis. Setiap tahun manajemen Unilever Indonesia menargetkan pertumbuhan bisnis di Indonesia, yang disesuaikan dengan target yang ingin dicapai oleh Unilever secara global.

2.      Proyek Listrik 35 Ribu Megawatt Butuh Kekompakan
Data Utama:
TEMPO.COJakarta - Pembangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW) untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional, seperti ditargetkan pemerintah, harus bebas masalah.
"Perusahaan penyuplai listrik setidaknya clear and clean dalam keikutsertaan pada program nasional 35 ribu megawatt," kata koordinator nasional Masyarakat Peduli Kedaulatan Energi (Madani), Ryas Restapati, di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2015.
Program pembangkit listrik 35 ribu MW telah diresmikan Presiden Jokowi di Yogyakarta baru-baru ini. Namun Ryas mengkhawatirkan program ini terganjal minimnya kualitas perusahaan peserta proyek.
"Persoalan biasanya muncul di pertengahan, dan masalah ini sudah jadi rahasia umum," ujarnya.  Persoalan itu di antaranya minim pengalaman, keuangan, dan kemampuan diplomasi pembebasan lahan.
Contoh kasusnya adalah dalam megaproyek Pembangkit Listrik Cirebon (PLC) yang menelan biaya sekitar 1,4 miliar dolar AS. Perusahaan Indika Energy menarik diri karena mengalami kesulitan keuangan.
Sedangkan persoalan melilit PT Adaro Energy, yakni belum berhasil membebaskan lahan di Balangan dan Tabalong, Kalimantan Selatan, menyusul rencana eksplorasi penambangan batu bara. Adaro diketahui tak transparan dalam anggaran pembebasan lahan.
            Karena itu, ditegaskan Ryas, syarat minimal yang wajib dipenuhi perusahaan peserta program adalah memiliki kemampuan dan pengalaman teknis, keuangan mumpuni, dan andal diplomasi pembebasan lahan.  "Tiga persyaratan itu ujian bagi para penyuplai setrum," ujarnya.
Program energi listrik nasional 35 ribu MW membutuhkan kecepatan, ketegasan, dan skema kerja sama saling mendukung antarpihak. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, serta PT PLN (Persero) berusaha merealisasikannya.
"Niat baik pemerintah untuk merealisasikan pembangunan pembangkit 35.000 MW sebaiknya bisa tercapai," tutur Ryas.
Analysis dan Komentar penulis:
Kerja sama adalah sebuah sistem pekerjaan yang kerjakan oleh dua orang atau lebih untuk mendapatkan tujuan yang direncanakan bersama. Semua pihak, baik pemerintah maupun PT. PLN (persero) merupakan satu tim dalam rangka proyek pembangunan listrik 35 ribu MW ini.  Kerja sama dalam tim kerja menjadi sebuah kebutuhan dalam mewujudkan keberhasilan kinerja dan prestasi kerja. Kerja sama dalam tim kerja akan menjadi suatu daya dorong yang memiliki energi dan sinergisitas bagi individu-individu yang tergabung dalam kerja tim. Komunikasi akan berjalan baik dengan dilandasi kesadaran tanggung jawab tiap anggota. . Jangan sampai terjadi miss komunikasi, karna hal tersebut dapat mngakibatkan terjadinya miss management. Bahkan proyek bisa saja menjadi gagal, karena sinergisitas dalam tim tidak dijaga.
Kerja sama dilakukan oleh sebuah tim lebih efektif daripada kerja secara individual. Menurut West (2002), Telah banyak riset membuktikan bahwa kerja sama secara berkelompok mengarah pada efisiensi dan efektivitas yang lebih baik. Hal ini sangat berbeda dengan kerja yang dilaksanakan oleh perorangan. Sebagaimana contoh kasus diatas, untuk membangun pembangkit listrik 35 ribu MW  membutuhkan kekompakan.
Setiap tim maupun individu sangat berhubungan erat dengan kerja sama yang dibangun dengan kesadaran pencapaian prestasi dan kinerja. Dalam kerja sama akan muncul berbagai penyelesaian yang secara individu tidak terselesaikan. Keunggulan yang dapat diandalkan dalam kerja sama pada kerja tim adalah munculnya berbagai penyelesaian secara sinergi dari berbagai individu yang tergabung dalam kerja tim. 
Kontribusi tiap-tiap individu dapat menjadi sebuah kekuatan yang terintegrasi. Individu dikatakan bekerja sama jika upaya-upaya dari setiap individu tersebut secara sistematis terintegrasi untuk mencapai tujuan bersama. Dalam mencapai tujuan bersama, kerja sama memberikan manfaat yang besar bagi kerja tim. Biasanya organisasi berbasis kerja tim memiliki struktur yang ramping. Oleh sebab itu, organisasi akan bisa merespons dengan cepat dan efektif lingkungan yang cepat berubah (West, 2002). 

3.              Kekompakan Tim dan Produktivitas Kerja Perlu Dijaga dalam Perlombaan

Data Utama :

Dalam perlombaan perahu dayung beregu yang dilangsungkan di sebuah kampung nelayan, terjadi peristiwa yang menarik. Setelah lomba berjalan beberapa saat, terlihat ada satu perahu yang melesat maju secara terarah menuju titik tujuan, jauh melebihi perahu-perahu lainnya.

Hingga beberapa kilometer berikutnya, perahu tersebut tetap bergerak secara terarah dan konsisten. Sedangkan perahu-perahu lainnya ada yang majunya lambat, beberapa kadang berhenti dan berputar-putar di tempat. Dan yang lebih lucu, ada satu perahu yang juga melaju cukup kencang, tetapi bukan ke arah tujuan, sebagai akibatnya perahu tersebut terlambat tiba di tempat tujuan.
Sebagai hasilnya sudah dapat diduga, perahu yang pertama tadilah yang keluar sebagai pemenang. Saat diwawancarai oleh panitia, ketua tim pemenang mengemukakan kunci keberhasilan tim adalah kelompok sepakat untuk fokus dan taat pada instruksi pemimpin tim yang berada di haluan perahu dan seluruh pendayung yang berjumlah 20 orang secara bersama, serempak dan sekuat tenaga mendayung, tidak berhenti hingga tiba di tujuan.
Tim ini menang karena tidak hanya kompak, tetapi juga taat akan kesepakatan (norma) tim. Tim lainnya menyatakan sudah kompak dalam mendayung, hanya saja karena arahan yang diberikan kurang jelas, akibatnya salah tujuan. Sedangkan tim yang kalah dan tidak sampai tujuan umumnya dikarenakan pendayung kurang kompak dan banyak yang kelelahan serta menyerah di tengah jalan.

Analysis dan Komentar penulis:
Ilustrasi di atas yang didukung oleh hasil studi secara konsisten menunjukkan bahwa hubungan antara kekompakan dan produktivitas (kinerja) tim terutama tergantung pada norma kelompok, khususnya norma-norma yang terkait dengan kinerja yang ditetapkan oleh tim.
Norma didefinisikan sebagai standar berperilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama dalam suatu kelompok. Norma menentukan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan oleh setiap anggota kelompok pada situasi-situasi tertentu.
Norma berfungsi sebagai kontrol internal terhadap perilaku kelompok. Sebagai contoh, sudah menjadi kesepakatan bersama di antara para pemain golf untuk tidak ber-bicara saat rekan bermainnya melakukan giliran memukul bola di lapangan.
Contoh lainnya, dalam sebuah pameran perumahan yang dilaksanakan oleh sebuah pengembang besar, pengunjung yang didekati oleh salah satu staf pemasaran pasti akan ditanya apakah sebelumnya sudah pernah ditangani oleh staf pemasaran yang lain atau belum.
Bila sudah, maka ia akan menghubungi staf pemasaran yang dimaksud untuk melayani. Bila belum, barulah ia akan melayani. Saat ditanyakan mengapa demikian, dijelaskan bahwa hal itu sudah menjadi kesepakatan di antara para staf pemasaran yang ada. Jadi mereka tidak akan merebut calon pembeli yang sudah pernah didekati oleh rekan kerja. Kesepakatan bersama inilah yang disebut sebagai norma.
Sedangkan norma-norma kinerja adalah norma-norma yang menggambarkan kesepakatan tim terkait dengan kinerja, seperti misalnya seberapa keras usaha kerja yang harus dihasilkan, apa yang harus dilakukan agar pekerjaan terselesaikan, seberapa besar tingkat hasil kerja yang harus dicapai, seberapa besar tingkat keterlambatan kerja yang masih dapat ditolerir, dan kesepakatan-kesepakatan lainnya.
Stephen P. Robbins, pakar perilaku organisasi, mengemukakan empat kombinasi hubungan antara kekompakan, norma-norma kinerja, dan produktivitas sebagaimana dapat dilihat pada gambar empat kuadran di bawah ini.


Tentu saja setiap organisasi berkeinginan agar produktivitas yang dicapai tinggi. Untuk itu situasi yang terbentuk haruslah merupakan kombinasi antara kekompakan tim yang tinggi dan norma-norma kinerja tim yang juga tinggi. Pertanyaannya sekarang, bagaimana membentuk tim yang kompak dan memiliki norma-norma kinerja yang tinggi? Syarat pertama yang bersifat wajib adalah tim harus memiliki dan menyepakati norma-norma kinerja seperti apa yang akan menjadi pedoman bagi tim berperilaku, termasuk di dalamnya adalah menetapkan tujuan dan sasaran hasil yang ingin dicapai.
Setelah norma disepakati, baru dilakukan beberapa cara yang dapat meningkatkan kekompakan tim, di antaranya: membentuk tim yang tidak terlalu besar dan menambah intensitas pertemuan-pertemuan tim terutama yang bersifat informal yang bertujuan meningkatkan intensitas dan keeratan hubungan, meningkatkan status tim dengan memberikan penugasan yang bersifat menantang dan mengukuhkan keberhasilan-keberhasilan tim, mempertinggi tingkat persaingan di antara tim, serta memberlakukan sistem penghargaan berbasis kinerja tim. Salam kompak dan produktif!

Daftar Pustaka :
























Jumat, 11 Maret 2016

STRATEGI dan TATA LETAK (Manajemen Operasi)



STRATEGI DAN TATA LETAK

I.                   STRATEGI

A.    Pengertian Strategi
Kata “strategi” adalah turunan dari kata dalam bahasa Yunani, strategos. Adapun strategos dapat diterjemahkan sebagai ‘komandan militer’ pada zaman demokrasi Athena.  Strategos berarti jendral tetapi dalam Yunani kuno sering berarti perwira negara. Dalam aturan yang sempit, strategi berarti seni jendral (the art of general). Memang dalam zaman Yunani kuno jendral dianggap bertanggung jawab dalam peperangan kalah atau menang, karena ia menguasai logistik dan sumber daya militer.
Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Di dalam strategi yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi factor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efisisen dalam pendanaan, dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif. Strategi dibedakan dengan taktik yang memiliki ruang lingkup yang lebih sempit, walaupun pada umumnya orang sering kali mencampuradukkan kedua kata tersebut.
Kemudian menurut Vancil (1976) dalam Salusu (2003: 45) menyatakan bahwa strategi suatu organisasi adalah konseptulisasi yang diekspresikan oleh yang pemimpin organisasi itu, yaitu tentang:
1.        Sasaran jangka panjang dari organisasinya
2.        Kebijaksanaan dan kendala
3.        Seperangkat rencana yang sedang berjalan mengenai tujuan jangka pendek
Selanjutnya Hax dan Majluf (1991) dalam Salusu (2003: 100), mencoba menawarkan rumusan yang komprehensif tentang strategi, yaitu:
1.        Strategi ialah pola keputusan yang konsisten, menyatu dan integral.
2.        Menentukan dan menampilkan tujuan organisasi dalam artian sasaran jangka panjang, program bertindak dan prioritas alokasi sumber daya.
3.        Menyeleksi bidang yang akan digeluti.
4.        Mencoba mendapatkan keuntungan yang mampu bertahan lama, dengan memberikan respon yang tepat terhadap peluang dan ancaman dari lingkungan eksternal organisasi, kekuatan dan kelemahannya.
5.        Melibatkan semua tingkat hirarki dari organisasi.
Dengan definisi ini berarti strategi menjadi suatu kerangka yang fundamental tempat suatu organisasi akan mampu menyatakan kontinuitasnya yang vital, sementara pada saat yang bersamaan ia akan memiliki kekuatan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah.
Strategi dapat juga didefinisikan sebagai pola tanggapan organisasi terhadap lingkungannya sepanjang waktu. Definisi ini mengandung arti bahwa setiap organisasi selalu selalu mempunyai strategi walaupun tidak pernah secara eksplisit dirumuskan. Strategi menghubungkan sumber daya manusia dan berbagai sumber daya lainnya dengan tantangan dan risiko yang harus dihadapi dari lingkungan di luar organisasi.
Dulunya strategi digunakan untuk memenangkan suatu peperangan. Kemudian fungsinya berubah yaitu untuk mencapai sasaran perang dan damai. Pada pertengahan abad 20 terjadi perubahan fungsi strategi, dimana pada saat itu kondisi-kondisi dalam lingkungan eksternal tidak lagi memberi jaminan keuntungan bagi berbagai usaha bisnis. Oleh karena itu strategi diperlukan untuk mengantisipasi tindakan-tindakan yang muncul dari para pesaing. Dari rumusan-rumusan strategi tersebut akan menghasilkan keputusan yang berupa kebijakan dan program untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi.
Strategi dulunya hanya digunakan dikalangan militer, kemudian dengan adanya perubahan zaman, saat ini strategi digunakan pada setiap jenis organisasi baik yang bersifat mencari laba ataupun bentuk organisasi nirlaba. Supaya dapat memberikan kontribusi pada situasi strategis, maka strategi diperlukan untuk menghadapi informasi-informasi yang tidak lengkap dari pihak lawan (pesaing) yang berasal dari luar.
Suatu strategi hendaknya mampu memberi informasi kepada pembacanya, yang sekaligus berarti mudah dipahami oleh setiap anggota manajemen puncak dan setiap karyawan organisasi. Menurut Donelly (1984) dalam Salusu (2003: 109), terdapat enam informasi dalam suatu strategi, yaitu:
1.        Apa yang dilakukan?
2.        Mengapa demikian, suatu uraian tentang alasan yang dipakai dalam menentukan apa di atas?
3.        Siapa yang akan bertanggung jawab untuk mengoprasionalisasikan strategi?
4.        Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk menyukseskan strategi?
5.        Berapa lama waktu diperlukan untuk operasionalisasi strategi tersebut?
6.        Hasil apa yang diperoleh dari strategi itu?
Dengan informasi ini maka setiap orang akan tergugah untuk melaksanakannya, sepanjang informasi itu dapat memberikan harapan bagi para karyawan.
Di sini peranan pemimpin sebagai pembuat keputusan adalah penting karena hanya merekalah sesungguhnya yang akhirnya menetapkan sasaran organisasi, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Strategi merupakan program umum dari tindakan dan komitmen atas penekanan-penekanan dan sumber daya ke arah pencapaian tujuan menyeluruh.

B. Strategi Bisnis
Mestrategi bisnis melibatkan pengambilan keputusan pada tingkat unit bisnis. Di dalam strategi tingkat ini yang ditujukan adalah bagaimana cara bersaingnya. Pendekatan yang berguna di dalam merumurkan strategi bisnis sebaiknya didasarkan atas analisis persaingan yang dicetuskan oleh Michael Porter:
Baris terlekuk (Lima Kekuatan Kompetitif Porter). Pendekatan Porter didasarkan atas analisis 5 kekuatan persaingan. Tekanan persaingan mencakup:
1.             Ancaman Pendatang Baru, perusahaan yang memasuki industry yang membawa kapasitas baru dan ingin memperoleh pasar-pasar yang baik dan laba, akan tetapi semua itu sangat tergantung kepada rintangan atau kendala yang mengitarinya.
2.             Daya Tawar Menawar Pemasok, pemasok dapat juga menjadi ancaman dalam suatu industry sebab pemasok dapat menaikkan harga produk yang dijual atau mengurangi kualitas produk. Jika harga produk pemasok naik maka harga pokok perusahaan juga naik sehingga akan menaikkan harga jual produk. Jika harga jual produk naik maka sesuai dengan hokum permintaan, permintaan produk akan menurun. Begitu pula jika pemasok menurunkan kualitas produk, maka kualitas produk penghasiljuga akan turun, sehingga akan mengurangi kepuasan konsumen.
3.             Daya Tawar Menawar Pembeli, pembeli akan selalu berusaha mendapatkan produk dengan kualitas baik dan dengan harga yang murah.Sikap pembeli semacam ini berlaku universal dan memainkan peran yang cukup menentukan bagi perusahaan. Jika suatu produk dinilai harganya jauh lebih tinggi dari kualitas (harganya tidak mencerminkan yang sepantasnya)maka pembeli tidak akan membeli produk perusahaan.
4.             Daya Tawar Produk Pengganti, produk pengganti secara fungsional mempunyai manfaat yang serupa fungsional mempunyai manfaat yang serupa dengan produk utama (asli), namun memiliki kualitas produk dan harga yang lebih rendah. Umumnya, produk pengganti disenangi oleh orang yang berpenghasilan rendah akan tetapi ingin tampil dengan status lebih tinggi dari keadaan sebenarnya.
5.             Persaingan Antar Pesaing, persaingan konvensional selalu berusaha sekeras mungkin untuk merebut pangsa pasar perusahaan lain. Konsumen merupakan objek persaingan dari perusahaan yang sejenis yang bermain di pasar. Siapa yang dapat menikmati hati konsumen maka berbagai cara dilakukan mulai dari memberikan fasilitas khusus, pembelian kredit dengan syarat ringan, harga murah atau diskon.

II.                TATA LETAK
A.     Pengertian Tata Letak
Menurut KBBI Tata Letak di artikan sebagai pengaturan, penempatan, dan penataan unsur grafika pada halaman atau seluruh barang cetakan supaya yang disajikan kelihatan menarik dan mudah dibaca. Tata letak mencakup desain dari bagian-bagian, pusat kerja dan peralatan yang membentuk proses perubahan dari bahan mentah menjadi bahan jadi. Perencanaan tata letak merupakan satu tahap dalam perencanaan fasilitas yang bertujuan untuk mengembangkan suatu sistem produksi yang efisiesn dan efektif sehingga dapat tercapainya suatu proses produksi dengan biaya yang paling ekonomis.
Menurut Fred E. Mayer dalam bukunya “Plant Layout And Material Handling” (1993:1) menyatakan bahwa : “Plant Layout is the organization of the companies physical facilities to promote the efficiently use of equipment, material, people, and energy.” Yang artinya : “Tata Letak pabrik adalah pengorganisasian fasilitas fisik perusahaan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan peralatan, bahan, orang dan energi.”
Berikut adalah contoh suatu  gambar tata letak peusahaan:







B.      Tujuan Perencanaan Tata Letak
Tujuan perencanaan lay out/ tata letak yang baik yaitu :
a.       Memaksimumkan pemanfaatan peralatan pabrik
b.      Meminimumkan kebutuhan tenaga kerja
c.       Mengusahakan agar aliran bahan dan produk lancar
d.      Meminimumkan hambatan pada kesehatan
e.       Meminimumkan usaha membawa bahan
Efektifitas dari pengaturan tata letak suatu kegiatan produksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut :
a.       Penanganan material – perencanaan tata letak harus memperhatikan gerakan dari material atau manusia yang bekerja. Gerakan material akan berdampak pada biaya penanganan material, biasanya mempunyai pengaruh yang cukup signifikan bagi biaya produksi.
b.      Utilisasi ruang – utilisasi ruang dan energi merupakan salah satu faktor yang diperhatikan  dalam perencanaa tata letak. Perkembangan teknologi memungkinkan  penataan mesin-mesin tidak dalam arah horizontal, berada dalam satu lantai, melainkan dapat  ke arah vertikal.
c.       Mempermudah pemeliharaan – perawatan mesin selain berpengaruh terhadap mutu produk juga berpengaruh terhadap usia mesin. Tata letak mesin harus menyediakan ruang gerak yang cukup bagi pemeliharaan mesin.
d.      Kelonggaran gerak – perencanaan tata letak tidak saja untuk memperoleh efisiensi ruang tetapi juga harus memperhatikan kelonggaran gerak bagi operatot /karyawan. Selain meningkatkan kepuasan karyawan atas kondisi kerja, kelonggaran gerak dapat mengurangi kecelakaan kerja.
e.       Orientasi produk – jenis produk yang dibuat sangat berpengaruh dalam perencanaa tata letak. Mislanya, produk ukuran besar dan berat, atau memelukan perhatian khusus dalam penangannya, umumnya menghendaki suatu tata letak yang tidak membuat produk dipindah-pindah. Sebaliknya, produk yang berukuran kecil dan ringan yang dengan mudah dapat diangkut akan menjadi lebih ekonomis apabila diproduksi dengan suatu tata letak yang berdasarkan proses.
f.       Perubahan produk atau disain produk – perencanaan tata letak juga memperhatikan perubahan jenis produk atau disain produk. Bagi perusahaan yang jenis produk atau disainnya sering berubah, tata letak mesin harus sefleksibel mungkin dalam mengadaptasi perubahan.